Asal Muasal Tradisi Lezat Kue Lebaran
Ada sejarah manis dalam isi toples hari Lebaran

Apa yang paling membuatmu kangen dengan momen lebaran? Ibadah sholat Ied, suasana kebersamaan, atau kudapan khas yang sering muncul saat lebaran? Selain ketupat opor sebagai menu utama, ada beragam kue kering khas lebaran yang seakan wajib untuk hadir sebagai suguhan bagi tamu yang bersilaturahmi. Ada yang teksturnya renyah atau lembut, sampai yang rasanya manis atau gurih. Setiap menjelang lebaran, bisa dipastikan toko kue akan kebanjiran pesanan sampai banyak orang menjadi produsen kue musiman untuk memenuhi permintaan tersebut. Lalu siapakah yang mengenalkan tradisi lezat satu ini untuk melengkapi keistimewaan lebaran di Indonesia?
Jika dirunut jauh ke belakang, kue kering pertama ditemukan di Persia, kemudian menyebar ke Benua Eropa. Belanda kemudian memperkenalkan resep dan kebiasaan memberikan kue sebagai hantaran saat hari spesial ke nusantara. Orang pribumi yang menjadi asisten rumah tangga atau menikah dengan laki-laki Belanda (disebut dengan nyai) kemudian menjadi perantara yang membawa kebiasaan tersebut pada masyarakat lokal. Komunitas Tionghoa juga lebih dahulu mahir dalam mengadaptasi budaya ini. Tidak sedikit toko roti yang dirintis oleh keluarga Tionghoa, contohnya Toko Oen yang didirikan oleh Liem Gien Nio dan telah beroperasi sejak 1936 di Semarang.

Nama-nama kue lebaran yang akrab di telinga kita rupanya berasal dari bahasa Belanda. Misalnya nastar, berasal dari kata ananas atau nanas dan taartjes atau tar. Nastar sendiri mengalami modifikasi bentuk dari pai dalam loyang besar menjadi bulatan kecil yang habis dalam satu suapan. Isian selai yang mulanya menggunakan bluberi atau stroberi juga digantikan dengan nanas yang lebih mudah ditemukan di Indonesia.

Kue berikutnya memiliki komposisi yang sangat khas negeri Belanda, yaitu keju. Tak lain adalah kastengel yang terdiri dari kata kaas (keju) dan stengels (batangan). Satu lagi yang tak kalah favorit, kue renyah dan manis yang resepnya telah digunakan di Eropa sejak tahun 1900-an. Saking populernya, kue satu ini memiliki berbagai nama, yaitu langues de chat di Prancis, kattentong di Belanda, atau lidah kucing di Indonesia. Semuanya memiliki arti yang sama dan merujuk pada bentuk lonjong kue yang menyerupai lidah kucing. Unik,yah!
Ada yang sudah terbayang dengan kelezatan kue lebaran saat membaca artikel ini?
Penulis: Fadhil Wiyoto
Penyunting: Nadin Himaya
