Kisah Congyang, Minuman Legenda dari Kota Semarang

Tak kenal maka tak Congyang

( sumber : flickr by johny je )

Warnanya merah tua, beraroma moka, rasanya manis dan kecut, serta menimbulkan efek hangat di perut setelah ditenggak. Kemasannya khas dengan botol gelap bergambar tiga orang berpakaian tradisional Cina, salah satunya sedang berpose menyuguhkan minuman. Minuman ini tidak asing di Kota Semarang, Congyang.

Congyang atau kerap disingkat sebagai ‘’CY’’ adalah nama beken dari minuman fermentasi beras putih, gula, spirit ditambah dengan perisa moka yang dikelompokkan dalam minuman alkohol golongan B dengan kadar 19.66%. Sebenarnya, kedua nama tersebut bukanlah nama resmi dari minuman dengan merek dagang Cap Tiga Orang ini. Seperti halnya kuliner lain dari Semarang, Congyang juga berasal dari akulturasi budaya Tionghoa yang menjadi cermin akan keberagaman etnis di Kota Semarang. Congyang diracik oleh seorang bernama Koh Tiong dan pertama diproduksi di kawasan Wotgandul, Pecinan, Semarang, pada tahun 1980an. Dahulu, tampilan kemasan Congyang lebih tradisional dengan botol yang diwadahi besek ( anyaman ) bambu dan dami ( pohon padi yang dikeringkan ) agar botol tidak mudah pecah.

Usut punya usut, awalnya Koh Tiong meracik Congyang sebagai minuman penambah stamina bagi pria! Congyang juga saat itu muncul sebagai inovasi dari minuman pendahulunya, A Djong, yang berasal dari resep obat tradisional Cina. A Djong telah menghilang seiring waktu. Namun minuman ini sempat tenar sampai memunculkan istilah “mabuk A Djong” di masyarakat Semarang untuk menyebut seseorang yang hilang kendali saat mabuk.

(Kemasan congyang yang khas dengan ilustrasi tiga orang. sumber : instagram congyang_smg)

Lalu bagaimana peran Congyang dalam masyarakat Semarang? Prie GS, budayawan asal Semarang, berpendapat bahwa Congyang memiliki citra yang ambigu untuk diterima oleh masyarakat Semarang. Selain karena stigma lewat istilah ‘mabuk A Djong’, sejak awal Congyang lebih dekat pada industri daripada tradisi. Berbeda jika dibandingkan dengan peran sake bagi masyarakat Jepang atau contohnya di nusantara adalah sopi, minuman alkohol dari lontar, yang menjadi instrumen dalam berbagai upacara adat di Nusa Tenggara Timur.

Kini, Congyang telah mengantongi izin untuk produksi dan peredaran dari BPOM RI dan bea cukai. Tersedia dalam dua ukuran, besar atau sering disebut tolde (botol gede), serta kecil atau tolik (botol cilik). Distribusi Congyang hanya terbatas di wilayah Semarang dan sekitarnya serta paling banyak dijajakan oleh warung tradisional. Ini membuat bagi penggemar Congyang dari luar daerah hanya dapat menikmatinya saat berkunjung ke Semarang atau dijadikan sebagai  buah tangan.


( Efek hangat dari congyang membuatnya kerap dinikmati saat malam hari.sumber : congyang_smg )

Congyang ternyata menyimpan banyak kisah di dalamnya, seperti halnya Kota Semarang yang tidak habis untuk ditelusuri. Setelah membaca artikel ini, apakah stigma Congyang dalam pikiranmu berubah?

 

Penulis: Fadhil Wiyoto

Penyunting: Nadin Himaya

Similar Posts