Gebyuran Bustaman : Tradisi Unik Menyambut Bulan Ramadhan dengan Perang Air

Sensasi perang air tanpa amarah ada di Bustaman.

Berbagai cara dilakukan oleh masyarakat Indonesia dalam merayakan kedatangan Ramadhan sebagai bulan paling suci umat Islam dalam setahun. Ada masyarakat yang menyambutnya dengan prosesi yang khidmat dan sakral, ada pula yang memilih melakukannya dengan riuh dan jenaka seperti warga dari Kampung Bustaman, Kota Semarang. Tradisi yang serupa dengan perang air ini berawal dari kebiasaan Kyai Bustam untuk mengguyur cucunya dengan air sumur setiap menjelang Ramadhan. Gebyuran yang berasal dari kata gebyur atau ‘mengguyur’ kemudian menjadi tradisi yang telah dijalankan selama puluhan tahun dan kini diangkat sebagai daya tarik wisata.

Perang yang tidak biasa ini mengambil lokasi medan ‘pertempuran’ di pemukiman Bustaman yang padat. Amunisi yang digunakan adalah air yang telah disiapkan dalam ember, gayung, serta kantong plastik dengan air berwarna-warni yang telah diberi pewarna makanan. Sementara pesertanya adalah warga Bustaman dan pengunjung yang terdiri anak-anak sampai orang dewasa.

Pertama-tama, peserta akan mencoreng wajah dan tangan dengan bedak dan bubuk pewarna. Hal ini merupakan simbol bahwa manusia sejatinya penuh kesalahan. Lalu memasuki waktu selepas Ashar, dimulailah ajang saling siram dan lempar kantong air pada satu sama lain. Tidak ada peserta yang boleh luput dari kondisi basah. Ini dianggap sebagai simbol dari penyucian diri dari segala kotoran menjelang Ramadhan. Mereka yang kemudian seluruh tubuhnya basah kuyup juga tidak boleh marah atau menyimpan dendam. Suasana yang ceria dan kebersamaan yang dibagi dalam kondisi berbasah-basah tersebut sesuai dengan harapan agar bulan Ramadhan dapat disambut dengan bahagia oleh semua orang.

Setelah dibuat kotor dan basah, warga akan disuguhi dengan nasi gudangan atau bubur sumsum yang akan dinikmati kembali dalam kebersamaan. Hidangan selanjutnya yang paling ditunggu adalah gula Bustaman yang terkenal itu serta beberapa olahan kambing lainnya. Warga memasaknya secara gotong-royong, kemudian menyantapnya bersama.

( sumber : sindonews.com / ahmad antoni )

Bukan hanya dikenal lewat tradisinya yang unik, Kampung Bustaman juga dijuluki sebagai ‘kampung kambing’ karena mayoritas masyarakatnya yang melakukan bisnis seputar hewan kambing. Mulai dari memasok daging, menyediakan tempat penjagalan, sampai mengolah berbagai hidangan berbahan baku daging kambing khas Bustaman. Nama kampung ini berasal Kyai Bustam yang diberikan lahan yang menjadi Kampung Bustaman oleh Belanda lewat jasanya sebagai juru perdamaian pasca peristiwa Geger Pecinan.

Tertarik mengikuti tradisi unik ini?

 

Penulis: Fadhil Wiyoto

Penyunting: Nadin Himaya