Istimewanya Perayaan Sekaten di Yogyakarta
Apa yang Sobat Sukaria ketahui mengenai Sekaten?
Tradisi Sekaten begitu melekat di kalangan masyarakat Yogyakarta. Ragam kegiatan budaya selalu menyala di kota ini. Sekaten menjadi tradisi tahunan yang populer dalam memperingati hari lahirnya Nabi Muhammad SAW yang diadakan setiap tanggal 5 sampai 11 Rabi’ul Awal (atau dalam kalender Jawa disebut bulan Mulud). Rangkaian acara ini diawali dengan Grebeg Maulud di halaman Keraton Yogyakarta. Wisatawan lokal bahkan luar kota ramai ingin menyaksikan langsung perayaannya.

Dahulu perayaan Sekaten selalu identik dengan kemeriahan pasar malam, namun pihak Keraton Yogyakarta memutuskan untuk menghapus keberadaan pasar malam dalam perayaan Sekaten. Hakekatnya Sekaten merupakan sarana untuk menyebarkan agama Islam melalui kegiatan kesenian gamelan. Sedangkan esensi perayaan Sekaten sebagai wujud memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW telah hilang dan tertutup gemerlap pasar malam. Karena itu, pihak Keraton Yogyakarta melarang penggunaan Alun-Alun Utara sebagai lokasi pasar malam dan memutuskan bahwa tradisi harus dikembalikan sebagaimana mestinya seperti gamelan, pengajian hingga Grebek Maulud.

Lalu, apa sih istimewanya perayaan Sekaten di Yogyakarta? Perayaan Sekaten biasanya ditandai dengan Grebeg Maulud atau prosesi adat sebagai simbol sedekah dari pihak Keraton Yogyakarta kepada masyarakat. Grebeg Maulud diawali dengan parade prajurit Keraton Yogyakarta dan diikuti dengan Kirab Gunungan dari hasil bumi. Gunungan yang dijadikan simbol kemakmuran Keraton Yogyakarta nantinya akan dibagikan kepada masyarakat. Gunungan di sini adalah representasi dari hasil bumi (sayur dan buah) serta jajanan (rengginang) warga yang melimpah.

Prosesi Kirab Gunungan dimulai dari Kori Kamandungan sebagai titik awal kemudian dibawa menuju halaman depan Masjid Gedhe. Sebelum memasuki acara puncak rebutan gunungan yang dilakukan oleh masyarakat, gunungan diserahkan kepada pihak Masjid Gedhe untuk didoakan. Selesai doa diucapkan, gunungan pun sontak menjadi rebutan masyarakat yang datang atau biasa disebut Ngrayah. Ada kepercayaan bahwa barangsiapa yang mendapat bagian apa pun dari gunungan tersebut, dia akan mendapatkan berkah.

Selain acara Grebeg Maulud, terdapat ritual adat lain seperti Miyos Gongso. Ritual ini ditandai dengan keluarnya 2 perangkat gamelan pusaka bernama Kanjeng Kyai Guntur Madu dan Kanjeng Kyai Nagawilaga. Gamelan tersebut merupakan peninggalan Kerajaan Demak yang digunakan oleh para Walisongo dalam rangka penyebaran agama Islam di Jawa. Kedua perangkat gamelan itu dibunyikan secara bergiliran selama lima hari berturut-turut dan hanya berhenti ketika waktu sholat.
Selanjutnya ada Pisowanan yang merupakan salah satu acara penting dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Keraton Yogyakarta, dimana Sultan akan hadir dan berinteraksi langsung dengan rakyat. Acara ini merupakan simbol kedekatan seorang Sultan dengan rakyat, diwujudkan dengan prosesi Nyebar Udhik-udhik. Prosesi satu ini berisi uang koin, beras kuning, dan bunga setaman yang dicampur kemudian dibagikan dengan cara dilempar ke arah warga yang hadir. Acara Sekaten memang selalu dinanti-nanti setiap tahunnya oleh masyarakat Yogyakarta.
Bagaimana seru kan acara perayaan Sekaten?
Penulis: Ardhiani Laura
Penyunting: Nadin Himaya
