Cerita Kartini dari Timur: Meruntuhkan Tambang dengan Seni Menenun

Ketika perusahaan tambang mengancam tanah leluhurnya, sosok wanita ini menjadi garda terdepan dalam menyelamatkan masyarakat adat dan bumi Mollo.

Di tanah Mollo, Kabupaten Timor Tengah Selatan, masyarakat adat hidup berdampingan bersama alam. Alam menjadi tonggak utama kehidupan masyarakat dan merupakan warisan leluhur yang dihormati. Namun perubahan terjadi pada tahun 1994 ketika PT Soe Indah Marmer mengancam Mollo dan mengakibatkan sulitnya akses air bersih bagi masyarakat sekitar. Melihat keadaan tersebut, seorang Kartini dari Timur bernama Aleta Baun turun tangan melawan perusahaan marmer yang merusak tanah leluhurnya. 

Pada tahun 1999, perjuangannya resmi dimulai. Berkat dukungan masyarakat adat dari suku Amanuban, Amanatun, dan Mollo, Aleta Baun dan dua ratus orang lainnya sepakat untuk melakukan aksi protes terhadap empat pabrik marmer yang berdiri di Timor Tengah Selatan. Wanita yang kerap disebut Mama Aleta ini pada awalnya tak memberitahu sang suami tentang aksi protes yang akan dilakukannya. 

Sumber: Kompasiana

Tantangan awal Mama Aleta dalam perjuangan ini berakar pada tantangan kultural. Pasalnya, laki-laki merupakan pihak pemegang kuasa dan juga pemimpin di Timor. Dengan gerakan yang ia inisiasi ini, ia turut mendobrak stereotip dan menjadi sosok perempuan pembawa perubahan. 

Aksi protes yang dilakukannya membuahkan banyak ancaman dan kekerasan. Ia menjadi musuh utama Bupati Timor Tengah Selatan pada tahun 1999. Dilansir darI CNN Indonesia, Mama Aleta masuk Daftar Pencarian Orang (DPO) Kepolisian Timor Tengah Selatan saat itu. Selain itu, pukulan, tendangan, dan ancaman pembunuhan juga sering ia terima. Namun semua ini tak mematahkan tekadnya dalam melindungi tanah leluhurnya. 

The Gecko Project: Mollo

Pada tahun 2006, ia mencetuskan ide protes dengan ciri khas lokal. Pada saat itu pula, Mama Aleta kembali menjadi musuh Bupati Timor Tengah Selatan karena ia dianggap menjadi dalang aksi protes yang didominasi oleh perempuan. Meski mendapat ancaman, Mama Aleta bersama para mama lainnya bertekad melakukan aksi protes dengan menenun di celah belah gunung batu yang akan ditambang. 

Dilansir dari Life Mosaic, Aleta menjelaskan arti batu bagi orang Timor. Menurutnya, batu adalah nama. Dalam batu-batu tersebut nama-nama marga ada dan menjadi bukti eksistensi masyarakat adat. Jika batu tersebut hilang, eksistensi masyarakat adat bisa terancam punah. Mollo sendiri memiliki empat filosofi dasar: nasi fani on nafum—yang berarti “rambut atau pori-pori adalah hutan”, fatu fani on nuif—”batu adalah tulang”, eol fani on na —”air adalah darah”, afu fani on nesa —”tanah adalah daging”.

Sumber: FMSC IPB

Berpegang pada filosofi tersebut, Mama Aleta dan perempuan Mollo lainnya menenun sejak pagi hingga pukul empat sore, sedangkan para lelaki akan tidur di tenda-tenda yang didirikan di tempat itu pada malam harinya. Motif tenunan yang dibuat para perempuan hebat tersebut kebanyakan bercerita tentang hubungan sakral manusia dan alam. Selama satu tahun aksi protes ini dilakukan hingga pihak investor keluar. 

Perjuangan Mama Aleta dan masyarakat adat lainnya berlangsung selama 12 tahun. Titik terang akhirnya ditemukan pada tahun 2012. Mama Aleta dan masyarakat adat lainnya berhasil menutup aktivitas pertambangan di kampungnya. Empat tambang yang tumbang menjadi bukti kegigihan Mama Aleta dalam memperjuangkan hak masyarakat adat dan tanah Mollo.

Sumber: Goldmanprize.org

Pada tahun 2013, Aleta Baun mendapatkan penghargaan Goldman Environment Award atas jasanya menyelamatkan lingkungan. Di tahun 2016 ia juga mendapat Yap Thiam Hien Award atas jasanya memperjuangkan hak asasi manusia. Sosok Kartini dari Timur ini tetap konsisten dalam memperjuangkan lingkungan hidup lewat Mama Aleta Fund, sebuah lembaga bantuan pendanaan bagi perempuan pejuang pemulihan alam. Mama Aleta tentu menjadi sosok Kartini masa kini bagi para wanita Indonesia.

Penulis: Katarina Nia

Penyunting: Nadin Himaya