Night at Ereveld: Sensasi Tur Sejarah Makam Kehormatan Belanda di Malam Hari

Berkunjung ke makam saat malam, siapa yang berani ikutan?

Konon, jalan-jalan ke makam malam hari itu menyeramkan. Namun jangan salah, jalan-jalan yang satu ini punya sensasi berbeda.  Stigma seram yang melekat pada makam benar-benar hilang dalam acara Night at Ereveld yang diadakan Bersukaria Walking Tour Semarang pada tanggal 27 Maret 2021 lalu. Simak perjalanan saya menyusuri Makam Kehormatan Belanda lewat artikel ini!

Night at Ereveld dilaksanakan di Ereveld Candi, Kecamatan Gajahmungkur, Semarang, sebagai rangkaian peringatan Earth Hour 2021. Ereveld Candi merupakan salah satu dari tujuh Ereveld (Makam Kehormatan Belanda) yang tersebar di pulau Jawa. Sebelum tahun 1950, terdapat 22 Ereveld di Indonesia. Namun akhirnya Ereveld ini disentralisasi di pulau Jawa. Terdapat total 1.100 makam di Ereveld Candi yang terdiri dari empat warga sipil dan para anggota militer dari Tentara Kerajaan Hindia Belanda (KNIL) yang gugur pada masa Perang Dunia Kedua dan masa revolusi.

Sumber: Dokumentasi Pribadi

Dalam acara ini, terdapat tiga kelompok yang masing-masing dipimpin oleh storyteller Bersukaria yakni kak Fauzan, kak Icha, dan kak Lita. Sekitar pukul 18.45 WIB, para peserta mulai mendatangi pendopo untuk melakukan registrasi. Night at Ereveld dibuka dengan sambutan ramah pengurus Ereveld Candi. Dengan cuaca berawan, akhirnya 30 peserta yang terbagi dalam tiga kelompok memulai night walking tour pada pukul 19.00 WIB. 

Saya memutuskan untuk mengikuti night walking tour yang didampingi oleh kak Icha. Bersama delapan peserta lainnya, saya memulai perjalanan dengan menonton video sambutan Meneer Robbert, ketua OGS (Oorlogsgravenstichting) kantor Indonesia atau dalam bahasa Indonesia disebut Yayasan Makam Kehormatan Belanda. Setelah itu, kami menuju bengkel pembuatan nisan Ereveld Candi. Dengan pembawaan yang ceria dan komunikatif, kak Icha menceritakan sejarah serta kisah-kisah di Makam Kehormatan Belanda ini. 

Sumber: Dokumentasi Pribadi

Beberapa fakta unik membuat saya kagum, salah satunya adalah tentang nisan yang terdapat di Ereveld Candi. Kak Icha bercerita bahwa nama-nama nisan yang tertulis dengan rapih tersebut ternyata dibuat secara manual dengan tangan. Kami pun bertemu Pak Andik, orang yang bertugas menulis nama-nama tersebut satu per satu. 

Selanjutnya, kak Icha menerangkan peroses pembuatan nisan untuk Ereveld Candi. Seiring berjalannya waktu, ternyata pembuatan nisan ini mengalami pergantian bahan dasar dari kayu jati menjadi beton. Hal ini dikarenakan daya tahan kayu yang tidak begitu tahan lama. Semakin membuat saya kagum ketika diceritakan bahwa lapisan dari cat nisan di sini diulang sebanyak empat kali dengan sentuhan akhir menggunakan cat anti air pada bagian bawah yang akan ditancapkan.  Storyteller kami juga menegaskan bahwa nisan di Ereveld selalu rutin diperbaiki setiap kali nisan tersebut mengalami kerusakan. 

Sumber: Dokumentasi Pribadi

Setelah menyusuri tempat pembuatan dan penulisan nisan, kami akhirnya memasuki kompleks pemakaman dengan himbauan tetap menjaga kesopanan. Hujan gerimis mengiringi perjalanan kami. Pada perhentian pertama, storyteller kami menjelaskan tentang sistem penamaan kompleks-kompleks makam Ereveld. Di Ereveld sendiri, tiap kompleks dibedakan menjadi beberapa bagian untuk memudahkan para peziarah mencari makam anggota keluarga mereka. 

Selain itu, makam-makam di Ereveld ternyata memiliki bentuk nisan yang berbeda sesuai dengan agama yang dianut. Saya juga baru mengetahui bahwa tak semua makam di Ereveld Candi diperuntukkan bagi mereka yang berkebangsaan Belanda. Beberapa nama asal Indonesia juga ditemukan dalam Ereveld ini. Mereka semua tergabung dalam Tentara Kerajaan Hindia Belanda (KNIL) dan KL, mayoritas berasal dari Indonesia Timur. Seluruh korban perang yang dimakamkan di Ereveld Candi adalah laki-laki. 

Dokumentasi Fauzan Kautsar

Perang memang menyisakan luka mendalam bagi mereka yang mengalaminya. Di Ereveld Candi sendiri, potret luka itu kami temukan saat mengunjungi makam massal (Verzamelgraf). Kondisi perang yang brutal kala itu memaksa prosesi pemakaman dilakukan secepatnya dan di tempat yang seadanya. Di salah satu makam massal yang kami temui, tertulis tiga warga sipil yang tak diketahui identitasnya (Onbekenden).  Mereka yang dimakamkan di sini kebanyakan wafat pada usia yang masih muda, yakni sekitar 20-30 tahun. 

Dengan antusiasme yang masih penuh, saya dan para peserta lain kembali menjelajah sisi lain Ereveld Candi. Kami berhenti pada satu monumen dekat tiang bendera tempat OGS mengibarkan benderanya setiap hari. Dalam monumen kecil ini, tertulis bukti ungkapan penghargaan bagi mereka yang gugur dalam perang namun belum dapat dimakamkan di Makam Kehormatan Belanda. 

Sumber: Dokumentasi Pribadi

Perhentian terakhir kami adalah Verzamelgraf Mario Tjamba dan Verzamelgraf Patjinang. Disinilah kami memulai prosesi penyalaan lilin bersama-sama sekaligus sebagai rangkaian kegiatan Earth Hour. Kisah kelam yang dialami para korban membuat kami mengerti bahwa perang membawa banyak kepedihan bagi mereka yang mengalaminya. Seperti kata storyteller kami, “Dalam perang, semuanya adalah korban.” 

Prosesi penyalaan lilin berlangsung lancar dan setelah itu ketiga grup berkumpul untuk berfoto bersama. Kami lalu menuju monumen utama sebelum kembali ke pendopo untuk menutup acara ini. Pada jam 21.15, acara Night at Ereveld resmi selesai. Para peserta mengucapkan terima kasih kepada storyteller serta para pengurus Ereveld Candi yang telah mendampingi mereka menjelajahi Makam Kehormatan Belanda ini.

Dokumentasi Audrian F.

Sejak awal hingga akhir, saya dan para peserta lain mendapatkan banyak cerita menarik sekaligus menelisik potret kelamnya Perang Dunia Kedua. Night at Ereveld berhasil membawa kembali kisah-kisah sejarah dengan apik dan menarik. Dengan ketiga storyteller yang handal, perjalanan kami jauh dari kata bosan atau menyeramkan. Para peserta mengakui bahwa Night at Ereveld sangat seru dan berkesan. 

Nah, jika tertarik berkunjung ke Ereveld Candi, silahkan datang antara pukul tujuh pagi hingga lima sore, ya! Atau dapat juga mengikuti walking tour rute Candi Baru sesuai jadwal bulanan di Instagram @BersukariaWalk. Namun jika ingin merasakan sensasi berkunjung saat malam hari, tunggu night walking tour dari Bersukaria selanjutnya dengan keseruan yang berbeda!

Penulis: Katarina Nia

Penyunting: Nadin Himaya