Demi Pala, Manhattan Rela Ditukar dengan Sebuah Pulau di Maluku

Ada pulau kecil yang punya andil dalam merubah sejarah salah satu kota terpenting di dunia.

Manhattan dengan hutan betonya saat ini ( Photo by Andre Benz on Unsplash )

Run adalah sebuah pulau seluas 6 kilometer persegi di Kepulauan Banda yang secara administratif masuk dalam Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku. Namanya tercantum dalam sejarah dunia lewat keberadaan pala yang awalnya hanya dihasilkan oleh Run dan pulau-pulau di sekitarnya. Mengingat proses perjalanan yang panjang untuk membawanya ke Eropa, pala memiliki nilai yang sangat tinggi sebagai bumbu masakan. Ketika Konstantinopel yang memainkan peran penting dalam perdagangan jatuh ke tangan Turki, bangsa Eropa kehilangan akses pada komoditi pala. Mereka merubah strategi dengan mencari rempah-rempah langsung ke sumbernya. Portugis, Spanyol, Belanda, dan Inggris saling berlomba, baik dalam menemukan rute tercepat menuju ‘kepulauan rempah-rempah’ maupun untuk menguasai sumber daya yang ada dengan menaklukkan wilayah serta melakukan monopoli perdagangan rempah-rempah.

Pulau Run (sumber : instagram @ramatoursholland)

Melalui jalur perdagangan, Belanda melalui VOC kemudian menguasai seluruh Kepulauan Banda dengan tujuan memonopoli sumber daya pala. Namun dari total 11 pulau, masih ada satu pulau yang mengganjal ambisi tersebut, yaitu Pulau Run yang dikuasai oleh Inggris. Maka dibuatlah Perjanjian Breda pada 31 Juli 1667. Salah satu poin perjanjian tersebut berisi ‘tukar guling’ kekuasaan. Yakni Pulau Run yang dikuasai Inggris ditukar dengan Nieu Amsterdam, koloni Belanda di Amerika yang saat itu hanya berupa wilayah rawa yang menjadi pos dagang bulu binatang. 

Biji pala, komoditi yang mengangkat nama Pulau Run
(Photo by Ian Yeo on Unsplash)

Nieu Amsterdam kemudian berubah nama menjadi Manhattan dan berkembang menjadi  pusat dari metropolis New York. Kini wilayah tersebut menjadi urat nadi perekonomian dunia serta kiblat budaya dengan koleksi pencakar langit seperti Empire State Building. Sementara Pulau Run tidak banyak berubah, malahan namanya semakin tenggelam dan tidak banyak diketahui oleh masyarakat Indonesia. Nilai pala sendiri telah lama anjlok semenjak bibit pala diselundupkan dan berhasil dibudidayakan di luar wilayah asalnya. Sulit untuk membayangkan jika Pulau Run dahulu memiliki nilai  yang sebanding dengan Manhattan. Kisah ini cukup untuk menggambarkan betapa besarnya potensi sumber daya yang dimiliki negeri ini sejak dahulu. Lalu, mampukah kita mengelolanya dengan bijak?

Penulis: Fadhil Wiyoto 

Penyunting: Nadin Himaya