Sejarah Dibalik Perubahan Wajah Pecinan Semarang
Wajah Pecinan Semarang yang telah banyak berubah menyimpan kisah pilu di tengah keberagaman.

Jika kalian membandingkan foto-foto lama Pecinan Semarang dari era Belanda dengan saat ini, rupanya akan terlihat perubahan yang signifikan. Ada kekhasan arsitektur bernuansa Tionghoa yang absen dan kini sebagian besar tersisa di klenteng. Fenomena serupa juga terjadi di hampir semua pecinan di Indonesia. Ternyata, terdapat pengaruh dari dinamika politik dalam negeri yang membuat wajah pecinan berubah.

Pecinan Semarang sendiri adalah produk kebijakan Belanda bernama wijkenstelsel yang memusatkan komunitas Tionghoa di Semarang ke dalam satu wilayah khusus untuk memudahkan pengawasan. Kecurigaan ini berasal dari peristiwa Geger Pecinan ketika orang Tionghoa dan Jawa bersama-sama memberontak pada kekuasaan Belanda. Mobilisasi orang Tionghoa juga dibatasi dengan passenstelsel, yaitu surat jalan wajib bagi orang Tionghoa yang hendak bepergian dan melintasi batas luar pemukiman pecinan.
Perubahan wajah pecinan terjadi setelah kemerdekaan, tepatnya pada masa pemerintahan Orde Baru. Melalui Instruksi Presiden Nomor 14 tahun 1967, segala aktivitas kebudayaan Tionghoa hanya diperbolehkan untuk dipraktikkan dalam lingkup keluarga atau individu. Saat Imlek pun tidak ada perayaan meriah atau atraksi barongsai yang umum untuk dilakukan saat ini. Pembatasan juga menyasar pada ekspresi budaya Tionghoa yang tertuang dalam arsitektur. Fasad bangunan bergaya Tionghoa dipotong dengan dalih pelebaran jalan dan digantikan dengan gaya bernuansa ‘kotak’ yang kita lihat sekarang. Hanya atap khas berbentuk lengkung yang bertahan dari bentuk asli bangunan.

Pemerintah melalui Keputusan Presiden Nomor 240 Tahun 1967 juga mendorong nama orang Tionghoa berikut institusi dan bisnis yang mereka miliki untuk diperbarui dengan nama yang terdengar ‘Indonesia’. Di Pecinan Semarang, contoh saja toko obat Ngo Hok Tong yang beroperasi sejak 1937, berganti nama menjadi Panca Jaya, sedangkan gedung kebudayaan Boen Hian Tong menjadi Rasa Dharma. Ini menjadi alasan mengapa pecinan di Indonesia tidak umum dengan papan nama beraksara Mandarin seperti halnya chinatown di negara lain.
Dinamika politik selanjutnya yang memberikan dampak adalah Kerusuhan 1998 yang menjadikan rumah dan bisnis warga Tionghoa sebagai sasaran amuk dan penjarahan. Banyak bangunan di Pecinan Semarang kemudian dilengkapi dengan terali besi dan mulut gang seperti Gang Besen dipagar tinggi untuk melindungi warga dan propertinya dari ancaman keamanan.
Pecinan Semarang menyimpan segudang kisah yang menarik untuk dipelajari. Dari perubahan rupa bangunan, kita seperti bisa menyaksikan dinamika negeri ini dan bagaimana Semarang menepis stigma serta mewariskan keharmonisan bermasyarakat.
Tertarik untuk mencari tahu Pecinan Semarang lebih dalam?
Penulis: Fadhil
Penyunting: Nadin Himaya
