CATATAN PINGGIR – Berwisata Menepis Prasangka

CATATAN PINGGIR - Menelusuri Jejak Leluhur di Tanah Jawa

Sebuah surel masuk ke akun kantor resmi Bersukaria Tour. Seseorang bernama Kirk Razga meminta
untuk dipandu pada kunjungannya ke Semarang di akhir Januari 2019. Saat mencermati permintaan
tujuan-tujuan yang dilampirkan, terdapat hal yang membuat kami agak mengerutkan kening. Ia ingin
mengunjungi peninggalan-peninggalan sejarah yang berkaitan dengan sejarah Walisongo yang ia
tahu terletak tidak jauh dari Semarang. Setelah serangkaian korespondensi terkait rute perjalanan,
disepakatilah tur akan dilakukan selama dua hari.

Saya mendapatkan tugas untuk memandu Kirk mengunjungi tujuan yang berkaitan dengan
Walisongo. Ternyata ia adalah seorang yang berkewarganegaraan Australia. Kami beranjak dari
Semarang pukul 07.30 menggunakan mobil. Untuk menghindari musim hujan yang sedang puncak-
puncaknya dan beberapa ruas jalan Pantura terendam banjir, kami pun memilih jalur alternatif.
Tujuan pertama kami pilih yang terjauh terlebih dahulu, yakni makam Sunan Muria di Colo, kaki
Gunung Muria.

Sesampainya di sana, hujan turun. Namun hal ini tak menyurutkan semangat Kirk. Bahkan di tengah
rintik hujan, ia sangat menikmati perjalanan mengendarai layanan ojek yang memang sangat
terkenal untuk membawa peziarah mencapai makam Sunan Muria. Ia terheran-heran dengan
kemampuan para pengemudi ojek melewati jalan dengan kontur mendaki yang sangat sulit itu.

Sesampainya di Makam Sunan Muria, hujan kembali turun, bahkan kali ini disertai angin kencang.
Lantunan ayat-ayat suci yang dilantunkan para peziarah berpadu dengan desir angin badai
memberikan pengalaman unik tersendiri bagi Kirk. “Saya merasa damai dan tenang di sini. Saya
sepertinya ingin menghabiskan waktu sejenak di sini”, pintanya. Selesai dari pengalaman spiritual
yang magis itu, Ia memilih untuk menuruni anak tangga dibanding menggunakan layanan ojek untuk
turun. Kami melanjutkan perjalanan ke tujuan berikutnya, yaitu Masjid Menara Al-Quds di Kudus, di
mana Makam Sunan Kudus juga terletak.

 

Di tengah-tengah perjalanan kami berbincang dan saya penasaran mengapa Ia yang bukan seorang
muslim bisa begitu tertarik untuk menelusuri sejarah Walisongo. “Ini semua bermula dari kunjungan
saya dua tahun silam ke Aceh. Wilayah yang bagi sebagian orang dirasa tidak ramah bagi non-
muslim. Ternyata saat saya berkunjung ke sana, saya malah diterima dengan baik,” tukasnya. Ia
melanjutkan beragam pengalamannya yang kemudian mengunjungi Sumatera Barat. Kirk
menemukan bahwa Islam di Indonesia sangatlah menarik dan berbeda dari gambaran yang
umumnya Ia dapatkan. Apalagi sebagai warga Australia, narasi tentang Islam tidaklah begitu baik
setelah peristiwa Bom Bali I dan II yang banyak merenggut nyawa warga Australia.

Kunjungan dilanjutkan ke Masjid Menara Al-Quds, Masjid Agung Demak, hingga Makam Sunan
Kalijaga di Kadilangu yang semuanya berjalan lancar. Seluruh penduduk lokal menerima dengan baik
kehadiran Kirk. Ia pun juga dengan nyaman menghabiskan waktu berlama-lama di tujuan-tujuan
tersebut, menemukan sisi kedamaian di tengah-tengah lantunan doa para peziarah. Walau tak
sedikit yang mengusik sejenak ketenangan Kirk dengan meminta berswafoto dengannya, namun ia
pun tidak keberatan.

Memang benar agaknya istilah “tak kenal maka tak sayang”. Dengan bepergian, kita bisa mengenali
dunia baru di luar lingkaran kita. Berani menembus prasangka tentang sesuatu dengan langsung
menyambanginya dan akhirnya mendapatkan kesimpulan langsung dari pengalaman yang didapat.
Agaknya hal ini menambah nilai plus dari sebuah kegiatan berwisata. Meskipun dunia semakin
terbuka dengan akses internet yang semakin meluas namun hal itu sendiri justru membuat orang
semakin bagaikan “katak dalam tempurung”. Jadi, kapan Anda akan memulai perjalanan dengan
keluar dari zona nyaman?

Salam
Yogi Fajri
Chief Operating Officer of  Bersukaria Tour