CATATAN PINGGIR – Menelusuri Jejak Leluhur di Tanah Jawa

CATATAN PINGGIR - Menelusuri Jejak Leluhur di Tanah Jawa

Pada 2015, saya menonton sebuah film berjudul Javanen uit Suriname yang berarti “orang Jawa dari
Suriname”. Sebuah video dokumenter berbahasa Jawa dan Belanda karya salah satu rumah produksi
di Belanda, yang sebenarnya merupakan buatan tahun 1988. Di masa itu, masih banyak generasi
kedua dari pekerja-pekerja migran yang didatangkan dari Jawa ke Suriname pada awal abad ke-20,
yang acap kali disebut sebagai “botjah Srinama”.

Dokumenter tersebut menceritakan memoar para pendatang yang kini persentasenya 14 persen dari
jumlah penduduk total Suriname. Semarang menjadi salah satu kota keberangkatan para pekerja-
pekerja migran ke Suriname ini, sebagaimana diberitakan dalam harian Het Nieuws van den Dag
voor Nederlands-Indië pada suatu hari di 1906. Saat itu, telah keluar sebuah Gouvernement Besluit
tertanggal 31 Maret 1906. Isinya adalah tentang upaya pemerintah untuk mendatangkan para
pekerja ke Suriname melalui Soesmans Emigratie en Vendu-en Commissie Kantoor yang
berkedudukan di Semarang.

Seabad lebih berlalu. Kini generasi ketiga atau pun keempat dari para pekerja migran tersebut mulai
memiliki rasa penasaran, bahkan ingin menelusuri lebih jauh tentang sejarah nenek moyangnya.
Salah satunya adalah klien kami dari Belanda, yakni Sharon Khalaykhan. Dilihat dari nama akhirnya,
sepertinya Sharon bukanlah orang Jawa, malah terlihat seperti keturunan India. Ternyata ia
mendapatkan darah Jawa-nya dari garis ibunya. Oleh karena ia dekat dengan neneknya yang seorang
Jawa dan tinggal di Suriname, ia bertekad untuk menelusuri jejak leluhurnya sembari berlibur ke
Indonesia.

Sharon mulai mengontak Bersukaria Tour karena berdasarkan ulasan yang ia lihat dari internet,
Bersukaria adalah operator tur yang menguasai sejarah. Pas sekali kedudukan Bersukaria Tour di
Kota Semarang, sebagaimana kota ini sangat erat kaitannya dengan sejarah para warga keturunan

Jawa di Suriname. Saat tur, Sharon pun mengunjungi beberapa destinasi yang berhubungan dengan
sejarah para warga keturunan Jawa di Suriname, di antaranya adalah Tangsi Mrican dan Soesman
Kantor. Soesman Kantor yang lokasinya berada di Kawasan Kota Lama Semarang sudah saya
singgung sebelumnya. Namun apa itu Tangsi Mrican?

Kompleks yang kini digunakan sebagai salah satu asrama militer milik Kodam IV Diponegoro ini
adalah sebuah balai latihan kerja yang dimiliki oleh AVROS. AVROS ialah sebuah perusahaan
perkebunan Belanda di Deli yang didirikan pada 1927. Kompleks ini melatih ratusan pekerja migran
sebelum dikirim ke perkebunan-perkebunan di Deli, Sumatera Utara. Para pekerja migran ini
umumnya terbujuk oleh rayuan para agen pencari kerja untuk dikirim ke Suriname. Mereka berpikir
keadaan Suriname jauh lebih menguntungkan dibandingkan dengan kerasnya pekerjaan di
perkebunan Deli. Hingga akhirnya pada saat diberangkatkan, mereka tersadar bahwa kali ini
perjalanannya lebih jauh, bahkan tak memiliki harapan lagi untuk bisa pulang ke kampung halaman
mereka di Jawa.

Membawa turis ke Tangsi Mrican yang merupakan komplek militer membuat saya agak harap-harap
cemas. Namun, hal itu pupus sudah saat meminta izin kepada warga lokal pagi itu. Sharon bahkan
diterima dengan baik. Para warga tidak canggung untuk mengajak mengobrol yang acap kali
membutuhkan saya sebagai penerjemah, berswafoto apalagi. Namun inilah momen-momen yang
akan sangat jarang ditemui di destinasi wisata umum. Keramahtamahan dan keakraban yang apa
adanya dari para warga lokal. “It feels like home,” ujar Sharon sembari melangkah keluar komplek
Tangsi Mrican sembari sesekali membalikkan badannya untuk membalas salam selamat tinggal dari
para warga. Mungkin memang benar, Home is where the heart is.

 

Salam
Yogi Fajri
Chief Operating Officer of  Bersukaria Tour