Menelusuri Kata Kolok: Bahasa Unik Khas Desa Bengkala
Di pesisir utara Bali, ada sebuah desa yang menjadikan bahasa isyarat sebagai alat komunikasi sehari-hari sekaligus warisan unik bagi masyarakatnya.

Jika mendengar kata Bali, apa yang pertama kali muncul di pikiran kalian? Bali memang terkenal akan pariwisata dan keindahan alamnya yang luar biasa. Tak jarang para turis asing datang dan bahasa Inggris pun menjadi bahasa alternatif untuk berkomunikasi. Namun di sebuah desa di Buleleng, bahasa isyarat menjadi alat komunikasi masyarakatnya.
Tepatnya di Kecamatan Kubutambahan, Desa Bengkala menjadi rumah bagi sejumlah besar tunarungu selama beberapa generasi. Tak seperti di daerah lain, masyarakat tunarungu di desa ini mendapat hak dan kesempatan yang sama. Kondisi sosial ini relatif unik di Indonesia, mengingat bahwa kebanyakan penderita tunarungu mengalami diskriminasi baik di bidang pendidikan maupun pekerjaan.

Kata Kolok secara harfiah berarti ‘tunarungu berbicara’ dalam bahasa Indonesia. Mereka yang sejak lahir tunarungu disebut sebagai ‘Kolok’ oleh sesama penduduk desa. Di sisi lain, mereka yang tidak memiliki gangguan pendengaran disebut ‘Enget’. Separuh penduduk tanpa gangguan pendengaran di Bengkala telah mempelajari Kata Kolok untuk kepentingan komunikasi dengan anggota keluarga dan teman tunarungu.
Kondisi dimana terdapat banyak orang yang dapat menggunakan bahasa isyarat mungkin tampak tak lazim, tetapi ada alasan kuat di balik tradisi unik ini. Ternyata, di desa Bengkala terdapat 33 penduduk terlahir sebagai tunarungu dari 3.003 penduduk yang mendiami wilayah itu. Selain itu, studi tahun 1995 mengenai pemetaan gen pada penyandang tunarungu di Bengkala menunjukkan bahwa kondisi unik ini terjadi karena adanya gen resesif (DFNB3) yang diturunkan selama tujuh generasi.

Dilansir dari buku “Sign Languages in Village Communities: Anthropological and Linguistic Insights” karya Ulrike Zeshan dan Connie de Vos, kata Kolok digunakan sebagai alat komunikasi informal dan dalam ranah pekerjaan, upacara keagamaan, serta pendidikan. Sebagai contoh, kata Kolok digunakan oleh tenaga kesehatan ketika mereka merawat masyarakat desa yang tunarungu. Kata Kolok juga digunakan pada balita serta anak-anak jika para pengasuh atau anak tersebut adalah penyandang tunarungu.
De Vos melanjutkan bahwa mayoritas penduduk Bengkala mencari nafkah di sektor agraris. Tanaman seperti kunyit, jahe, kacang tanah, jagung, singkong, dan kacang mete tumbuh di sekitar desa. Selain itu, mereka membudidayakan buah-buahan seperti rambutan, mangga, dan jeruk. Aneka hasil alam ini diperjualbelikan lewat bisnis rumah makan yang umum dijalankan. Selain rumah makan, terdapat sektor bisnis lain seperti industri kayu, kerajinan tenun, dan jasa angkut (transportasi).

Mayoritas penduduk Bengkala beragama Hindu dan tetap menjalankan kegiatan keagamaan tanpa batasan, baik warga penyandang tunarungu maupun mereka yang tak memiliki gangguan pendengaran.
Dalam artikel Annelies Kusters, dikatakan bahwa warga Kolok mendapat kesetaraan hak berpartisipasi dalam kegiatan desa. Sebagai contoh, warga Kolok umumnya bertugas membersihkan pura sebelum dan sesudah upacara. Warga Kolok juga membantu menyiapkan berbagai hal yang diperlukan untuk upacara.
Menurut 9News, terdapat kesulitan yang sering dialami warga Kolok ketika harus mencari pekerjaan di luar desa. Sebagian besar penduduk hidup miskin dan tidak dapat menyekolahkan anak-anak mereka ke sekolah menengah. Ini menyebabkan mayoritas masyarakat Bengkala berpendidikan rendah dan memiliki tingkat upah yang rendah pula.
Tak dipungkiri, keunikan Desa Bengkala ini mendapat perhatian warga Indonesia hingga dunia internasional. Peneliti asal Belanda, Hannah Lutzenberger mengakui bahwa kata Kolok memiliki keunikan yang tak dimiliki bahasa isyarat lainnya. Bahasa unik ini menjadi kekuatan sekaligus warisan masyarakat Bengkala. Jika berkunjung ke Bali, tidak ada salahnya main ke desa Bengkala, lho!
Penulis: Katarina Dhania
Penyunting: Nadin Himaya
