Jangan Tertukar, Berikut Perbedaan Blangkon Solo dan Yogya

Rupanya ada alasan dan filosofi dibalik perbedaan tersebut!

Ada yang bisa menebak blangkon tipe apa yang digunakan Adipati Dolken? (sumber: instagram / @adipati)

Banyak yang mengenal blangkon sebagai penutup kepala yang menjadi bagian dari pakaian tradisional untuk laki-laki Jawa. Asal katanya dari ‘blangko’ yang berarti siap pakai karena penutup kepala terdahulu hanya berupa selembar kain yang perlu dibuat simpul sebelum digunakan. Walaupun tidak lagi dikenakan dalam keseharian, blangkon masih banyak dijumpai dalam seremoni pernikahan adat Jawa atau peringatan Hari Kartini di sekolah. Namun, tidak banyak yang tahu jika terdapat berbagai macam bentuk blangkon sesuai daerah. Di antaranya, yang  paling umum digunakan adalah blangkon Solo dan blangkon Yogya. 

Blangkon Yogya yang khas dengan mondolan (sumber: flickr.com / JoshLiem)

Perbedaan keduanya paling mudah dikenali lewat bagian belakang blangkon, ada yang rata (trepes) dan ada yang memiliki benjolan (mondolan) seperti telur sebagai ciri khas dari blangkon Yogya. Mondolan yang berisi kain/kapas melambangkan gulungan rambut, dimana dahulu laki-laki Jawa terbiasa memanjangkan rambut yang jika digulung akan membentuk benjolan. Menggulung rambut adalah bentuk pengendalian diri, karena dahulu rambut biasa diuraikan di medan perang saat emosi meluap. Selain itu, menggulung rambut sejalan dengan filosofi masyarakat Jawa yang berhati-hati untuk tidak mengumbar rahasia atau aib, baik yang dimiliki diri sendiri maupun orang lain. Tujuan akhirnya adalah menjaga hubungan satu sama lain agar terhindar dari perselisihan.

Blangkon tipe Solo yang rata di bagian belakang ( sumber : flickr.com / Dilla Tasyafani)

Sementara blangkon trepes dapat dikenali sebagai blangkon Solo. Hal ini karena masyarakat Solo mengadaptasi kebiasaan Belanda dalam berpenampilan, salah satunya mencukur pendek rambut bagi laki-laki serta mengenakan beskap yang diadopsi dari jas ala Eropa. Bentuk blangkon juga melebar jika dibandingkan dengan blangkon Yogya yang meruncing ke atas sehingga membentuk ‘huruf A’ di dahi.

Abdi dalem dari Kesultanan Yogyakarta, kerajaan yang lahir dari pembagian Mataram
(sumber: flickr / EA Media Syn)

Lalu apa alasan dibalik perbedaan tersebut, bukankah Yogya dan Solo sama-sama berbudaya Jawa? Sejarahnya bermula dari pembagian Mataram menjadi dua bagian, yaitu Kesultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta. Pada 1755 di Jatisari, kedua raja yaitu Sultan Hamengkubuwono I dan Sunan Pakubuwono III, yang merupakan paman dan keponakan, menghasilkan kesepakatan untuk mengembangkan budaya dengan ciri khas masing-masing sebagai tanda akan lahirnya dua kerajaan yang berbeda. Yogyakarta akan mengikuti pakem sesuai tradisi Mataram sementara Surakarta akan membentuk ciri khas baru yang tetap berlandaskan budaya lama. Sehingga, muncul perbedaan tidak hanya dalam bentuk blangkon dan cara berbusana tetapi juga  motif batik, wayang, sampai tarian.

 

Perbedaan bukan masalah, malah menambah keragaman budaya! Benar tidak, sobat Sukaria?

 

Penulis: Fadhil Wiyoto

Penyunting: Nadin Himaya

Similar Posts