Yang Tidak Kita Bicarakan Mengenai Pleburan

Merasa Kenal dengan Kota Semarang? Coba Rute Pleburan ini

Dokumentasi Pribadi

Apa yang pertama muncul di benak warga Semarang jika mendengar kata Pleburan? Sebagian besar akan menjawab kampus Universitas Diponegoro atau jejeran tempat nongkrong serta rumah makan yang bertebaran di daerah ini. Kawasan yang berada di jantung kota ini jika ditelusuri lebih dalam ternyata punya banyak sekali cerita sejarahnya.

 Mari kita buktikan lewat walking tour rute Pleburan yang dilakukan pada Minggu (11/4) pagi yang cerah ini. Rupanya peminat rute ini cukup banyak sehingga tour dibagi menjadi tiga rombongan agar tetap mematuhi protokol kesehatan. Aku sendiri ikut dalam rombongan Kak Tiwi, yang dengan kaus kuning khas story teller Bersukarianya siap memanduku beserta 8 peserta lain yang sama antusiasnya.

( Wonderia seperti memasuki hutan kecil dengan nostalgia. sumber : dokumen pribadi )

 Dari titik temu di Taman Singosari, kami menyebrang ke lokasi bekas tempat rekreasi yang pasti semua warga Semarang mengetahuinya. Yup, Wonderia! Dibuka pada tahun 2004 silam, tempat ini sempat menjadi hiburan favorit bagi warga Semarang dan sekitarnya. Selain karena letaknya yang strategis di tengah kota, Wonderia populer di kalangan pelajar Semarang karena promosinya yang menggratiskan akses masuk bagi mereka yang mendapat rangking 10 besar di sekolah. Aku sendiri ingat beberapa kali mengunjungi Wonderia untuk acara seperti ulang tahun dan lomba menggambar. Namun, kini keriuhan manusia telah digantikan dengan kehidupan lain, yaitu belukar tumbuhan liar. Tersisa fondasi dari wahana seperti bom-bom car dan monorel di antara kerimbunan tanaman.

Tidak banyak yang tahu jika ternyata terdapat lebih dari satu makam tua di dalam area taman rekreasi. Makam yang cukup tersembunyi di balik tembok bergambar kartun tersebut kondisinya terawat dan masih diziarahi. Salah satunya  makam Mbah Genuk yang dahulu menjadi salah satu pionir pembukaan lahan di wilayah tersebut. Walau kini aku tidak dapat lagi mengenali Wonderia, ada perasaan senang jika tempat ini dapat diresmikan menjadi ruang terbuka hijau.

( Tiwi menjelaskan tentang lukisan Raden Saleh. sumber : dokumen pribadi )

Selesai dari Wonderia, kami berjalan menuju sebuah taman budaya yang berada persis di sebelahnya, yaitu Taman Budaya Raden Saleh yang nyeni banget. Mulai dari penamaan Raden Saleh yang merupakan pelukis legendaris asal Semarang sampai fungsinya sebagai tempat pementasan Wayang Orang Ngesti Pandawa. Berdiri sejak 1937, Ngesti Pandawa pernah menjadi ikon hiburan Semarang sampai diundang untuk pentas di Istana Negara oleh Presiden Soekarno. Kini, kehadiran taman budaya menyediakan sarana bagi benteng terakhir kesenian wayang orang di Kota Semarang tersebut.

( Apa yang ada di balik bangunan ini? sumber : dokumen pribadi)

Tak jauh dari lokasi sebelumnya, peserta diajak mengulik sebuah bangunan bernuansa Tionghoa yang kerap membuat orang yang melintasi Jl. Sriwijaya bertanya-tanya akan fungsinya. Rupanya bangunan cukup megah ini adalah sebuah makam dan bukan sembarang makam. Saat memasuki bangunan, akan terdapat sepasang makam yang terbuat dari marmer dan dihiasi patung setengah badan. Pemilihan material yang diimpor langsung dari Genoa, Italia ini membuat ruangan menjadi sejuk. Lalu siapa gerangan pemilik makam mewah ini? Keduanya adalah ayah dan ibu tiri dari Thio Tjiam Tjong (1896 - 1969), pengusaha ternama sekaligus politikus asal Semarang yang mendirikan Chinese English School (kini SMAN 5 Semarang) serta turut dalam komite pembentukan Universitas Tarumanegara Jakarta. Ia sendiri tidak dimakamkan bersama orang tuanya karena meninggal di negeri Belanda.

( Menutup perjalanan dengan menu dari Waroeng Kopi Alam. sumber : Dokumen pribadi )

Terakhir, sebagai bentuk kolaborasi dengan Bersukaria, rute ini berakhir di Waroeng Kopi Alam. Kafe sekaligus tempat makan yang menyediakan menu khas peranakan Tionghoa. Di sini, aku memilih Bubur Hioko dan Kopi O untuk mengisi perut sekaligus sarapan setelah menelusuri rute Pleburan yang cukup menguras tenaga. Koleksi buku sejarah Semarang yang tersedia untuk dibaca pengunjung juga  menemaniku sambil bersantai melemaskan otot-otot kaki. Dari penuturan peserta, mereka terkesan dengan rute kali ini yang memperlihatkan sisi lain dari Pleburan sekaligus memberi kesempatan untuk menjelajah tempat yang selama ini hanya dapat dilihat dari kejauhan.

 Pleburan berasal dari kata ‘lebur’ yang konon merujuk pada peristiwa pertemuan kembali Kyai & Nyai Borang dengan putranya, Joko Tandur. Entah kebetulan atau tidak, ini sesuai dengan Pleburan saat ini yang menjadi tempat berbagai orang berkumpul dan melebur bersama, salah satunya lewat walking tour Bersukaria.

Penulis: Fadhil Wiyoto

Penyunting: Nadin Himaya