Pandemi Covid-19 Bukan Kali Pertama Lebaran tanpa Mudik
Larangan mudik bukan pertama kali terjadi dalam sejarah Indonesia

Ada yang kurang dari perayaan Idul Fitri 1442 H. Memasuki tahun kedua pandemi Covid-19 di Indonesia, mudik yang telah mengakar sebagai tradisi lebaran dalam masyarakat dilarang karena berpotensi memperparah penyebaran. Fenomena ini adalah hal baru bagi kita tetapi tidak dalam catatan sejarah Indonesia. Alasannya pun beragam, mulai dari isu keamanan sampai politik. Lalu apa saja peristiwa besar yang ‘memaksa’ mudik ditiadakan?

Merunut dari asal-usulnya, tradisi mudik bertumbuh seiring dengan laju urbanisasi yang menarik orang untuk meninggalkan kampung halaman menuju kota. Pada tahun-tahun awal kemerdekaan urbanisasi tentu belum sebesar sekarang, tetapi keberadaan kota besar telah menarik pendatang. Periode tersebut juga masa sulit bagi masyarakat Indonesia yang tengah mempertahankan kemerdekaan dari Belanda yang ingin menegakkan kembali kekuasaannya di nusantara. Kontak senjata lumrah terjadi serta banyak wilayah dikuasai oleh pihak Belanda. Sehingga, tradisi mudik terhalang oleh tidak amannya kondisi saat itu ditambah dengan terbatasnya sarana transportasi. Bahkan di beberapa tempat pertempuran tetap berlangsung pada hari raya Idul Fitri.

Peristiwa selanjutnya juga terjadi pada pemerintahan presiden pertama, Soekarno, ketika Operasi Trikora (1961-1962) berlangsung. Operasi militer tersebut berupaya mengintegrasikan wilayah Irian Barat yang sebelumnya berada di bawah pemerintahan Belanda agar menjadi bagian dari Indonesia. Sehingga, Presiden Soekarno memberikan larangan halus kepada masyarakat agar membatasi diri untuk mudik mengingat tradisi satu ini memerlukan biaya besar, sementara negara sedang berhemat untuk Trikora. Namun serupa dengan yang kita saksikan saat ini, banyak masyarakat yang bersikeras mudik untuk merayakan hari raya di kampung halaman.
Wah, semoga kondisi segera membaik sehingga mudik lebaran dapat dilakukan lagi. Jangan lupa tetap jaga kesehatan, ya Sobat Sukaria!
Penulis: Fadhil Wiyoto
Penyunting: Nadin Himaya
