Radio Kambing dalam Sejarah: Kisah Heroik Pers Indonesia pada Agresi Militer Belanda II

solo.tribunnews.com

Tak jarang terdengar suara kambing ketika pemberitaan kondisi perang mengudara.

solo.tribunnews.com
solo.tribunnews.com

Agresi Militer Belanda II yang terjadi pada tahun 1948 menyisakan jejak-jejak sejarah. Tersebar di banyak tempat lantas menjadi saksi bisu pertempuran dan perjuangan. Kisah-kisah heroik tak luput tercatat dalam momen bersejarah ini. Salah satunya terjadi di Kabupaten Karanganyar, Solo. Tepatnya di Desa Balong, sebuah pemancar radio berhasil mengudara untuk memberitakan kondisi perang saat itu meski di bawah kejaran Belanda.

 

Kala itu, pihak Belanda sigap menggempur obyek vital yang dianggap menghalangi rencana mereka. Radio yang menjadi tonggak informasi saat itu menjadi salah satu sasarannya. Tak tanggung-tanggung, Belanda menggempur pemancar radio RRI di PTP Goni, Delanggu, Klaten, Jawa Tengah. Pada saat inilah Kepala RRI Surakarta, yakni R. Maladi memerintahkan anggotanya untuk mengungsikan pemancar RRI Surakarta.

Potolawas
Potolawas: Belanda Menuju Solo

Sekitar sepuluh orang membawa pemancar RRI Surakarta menuju mobil deSoto. Pada tanggal 20 Desember 1948, pemancar tersebut secara diam-diam dibawa ke Karanganyar. Sehari setelahnya, mobil dirusak oleh pihak Belanda saat dalam perjalanan. Namun pemancar dan seluruh alat lain masih bisa diselamatkan. 

Karena mobil telah rusak, para pejuang tadi mengangkut pemancar serta alat-alat lain dengan menggunakan kayu dan bambu. Dibantu oleh warga sekitar secara bergantian, seluruh peralatan mencapai Desa Balong di Karanganyar setelah dua minggu menempuh perjalanan. Agar tak tertangkap pihak Belanda yang saat itu sudah masuk ke Karanganyar, seluruh alat radio disembunyikan di sebuah kandang kambing. Inilah asal muasal nama Radio Kambing.

Dilansir dari CNN Indonesia, diperkirakan pada akhir tahun 1950, Pemancar Radio Kambing kembali ke Societeit Sasana Soeka, Surakarta. Saat ini, pemancar tersebut berada di lantai satu Monumen Pers Nasional. Perjuangan rakyat serta para penyiar kala itu menjadi kisah heroik yang layak dikenang bangsa Indonesia. Jika tertarik untuk melihat wujud fisik Radio Kambing, sempatkan mampir ke Monumen Pers Nasional, ya!

Penulis: Katarina Dhania

Penyunting: Nadin Himaya