Travelling ke Surakarta? 4 Pasar Tradisional Ini Wajib Kamu Kunjungi!
Sssst! Ada Pasar khusus produk daur ulang juga lho!

Pergi ke Surakarta, Jawa Tengah, belum lengkap bila tidak mengunjungi salah satu pasar tradisionalnya. Di tengah perkembangan perkotaan, pasar tradisional Surakarta tetap bertahan dan masih eksis sebagai daerah tujuan wisata, kawasan pelestarian sejarah, dan ruang kegiatan masyarakat untuk jual beli.
Sobat Sukaria merencanakan perjalanan ke kota ini? Berikut beberapa pasar tradisional yang bisa Sobat Sukaria kunjungi sambil menjelajahi pelosok Surakarta.
1. Pasar Klewer

Berlokasi strategis di antara Keraton Surakarta Hadiningrat dan Masjid Agung Surakarta. Pasar Klewer telah menjadi pusat perbelanjaan sejak tahun 1940-an. Hal ini terus menarik banyak orang selama beberapa dekade, menjadikannya sentra produk tekstil terbesar di Jawa Tengah.
Batik merupakan komoditas utama yang diperdagangkan di Pasar Klewer, dimana tersedia tiga pilihan produk yaitu batik tulis, batik cap dan tekstil bermotif batik.
Jika kamu ingin melihat proses membatik lebih dekat, mampirlah ke Desa Kauman yang terletak di seberang pasar. Kawasan ini merupakan sentra produksi batik yang juga patut dikunjungi. Di sana, kita bisa berbincang dengan pengrajin batik secara langsung.
Selain batik dan Desa Kaumannya, Pasar Klewer juga terkenal dengan hidangan legendarisnya yaitu tengkleng. Menu ini terbuat dari daging domba atau kambing yang dimasak bersama dengan tulangnya. Warung tengkleng di pasar ini selalu dipadati penikmat makanan yang bahkan rela antre berjam-jam.
2. Pasar Gede

Pasar Gede (Grand Market) Hardjonagoro adalah bangunan bersejarah dari era Sri Susuhunan Pakubuwono X Keraton Kasunanan Surakarta. Dibangun pada tahun 1927 oleh arsitek Belanda, Thomas Karsten. Letaknya di Jl. Urip Sumoharjo, Sudiroprajan. Pasar ini bersebelahan dengan Sungai Pepe, yang selama pengembangan Pasar Gede masih menjadi jalur perdagangan dari Sungai Bengawan Solo.
Selain menjual bahan makanan sebagai komoditas utamanya, Pasar Gede juga dikenal sebagai sentra kuliner aneka masakan tradisional Surakarta. Timlo dan soto menjadi menu andalan di Pasar Gede. Menu dan jajanan pendampingnya antara lain dawet, gethuk, brambang asem, cakwe, dan tahok.
Hmmm, pilihan menarik ya untuk berburu kuliner!
3. Pasar Triwindu

Pasar Triwindu terletak tepat di seberang Istana Mangkunegaran, tepatnya di Jl. Diponegoro, Keprabon, Banjarsari, Surakarta. Dibangun pada tahun 1936 pada masa pemerintahan KGPAA Mangkunegara VII. Di pasar ini banyak penjual benda seni, barang antik dan barang antik yang direproduksi.
Bagi pecinta barang antik, Pasar bak surga. Menjelajahi koridor Pasar Triwindu seperti berjalan menyusuri lorong museum, dengan berbagai koleksi mulai dari keramik Cina, gramophone, penggiling kopi, unit radio kuno, dan perlengkapan dapur vintage. Pasar ini juga menjual berbagai produk kerajinan tradisional seperti topeng Panji, wayang kulit, lukisan kaca, dan patung.
Pasar Triwindu juga terkenal dengan sajian kuliner seperti soto, yang tempat makannya sudah ada sejak 1939. Hidangan khas lainnya termasuk es dan sate kere. Sate Kere terbuat dari jeroan sapi yang disajikan dengan bumbu kacang pedas, biasa ditemukan di Plaza Ngarsopuro, kawasan depan Pasar Triwindu.
4. Pasar Kabangan

Pasar Kabangan terletak di Jl. Rajiman, Sondakan, tidak jauh dari kampung batik Laweyan. Pasar ini satu-satunya yang menjual berbagai produk daur ulang dengan harga yang relatif miring, mulai dari Rp 20.000 untuk peralatan memasak hingga ratusan ribu rupiah untuk barang-barang yang lebih besar, seperti tangki air atau kubah masjid.
Setiap hari, truk mengirimkan drum bekas dari beberapa pabrik di luar Surakarta ke Pasar Kabangan. Di dalam pasar terlihat pengrajin yang membersihkan drum bekas, memotongnya menjadi potongan-potongan kecil untuk dirangkai sedemikian rupa sehingga menghasilkan berbagai peralatan rumah tangga, seperti tempat sampah, kompor, kursi, ceret, bak air dan barang-barang lain yang terbuat dari daur ulang.
Ternyata 4 Pasar tadi cukup lengkap, ya! Belanja batik, barang antik, hingga jajanan pemanja perut ada di sana. Sudah siap menjelajah Surakarta?
Penulis: Ardhiani Laura
Penyunting: Nadin Himaya
