Saudara-Saudara Kartini yang tak Kalah Menginspirasi
Tidak banyak yang tahu jika pemikiran progresif Kartini juga mengalir dalam keluarganya

Source : Leiden University Libraries Digital Collection
Kartini, sosok perempuan cerdas dibalik namanya yang bersinar memiliki saudara-saudara yang tak kalah cerdasnya. Lahir di keluarga Ningrat, baik Kartini maupun 10 saudaranya memiliki akses khusus untuk dapat mengenyam pendidikan. Mereka dibesarkan bersama dalam Pendopo Kabupaten Jepara, kediaman bagi Bupati Jepara yang saat itu dijabat oleh ayahnya.

Source : Leiden University Libraries Digital Collection
Di antara saudaranya, Kartini cukup dekat dengan Kardinah dan Roekmini. Kepada kedua adiknya tersebut, ditularkannya kebiasaan membaca serta keberanian memimpikan hal besar. Mereka kerap blusukan untuk melihat langsung kondisi masyarakat dan menyadari jurang kesenjangan sosial dalam gender dan pendidikan. Ketiganya sampai dijuluki sebagai het klaverblad atau ‘daun semanggi’, merujuk pada kebersamaan mereka yang layaknya tiga ruas daun pada semanggi. Saat mereka memasuki usia menikah, Kardinah menjadi yang pertama dipinang oleh Raden Mas Haryono yang kemudian menjadi Bupati Tegal. Walaupun begitu, Kardinah tidak serta merta melupakan cita-cita mereka untuk memberdayakan perempuan.
Beruntung, suaminya mendukung niat baik tersebut. Melalui pengaruhnya sebagai istri bupati, Kardinah membangun Sekolah Kepandaian Putri Wisma Pranowo di Tegal. Bahkan pahlawan emansipasi, Dewi Sartika, pernah berkunjung ke Wisma Pranowo untuk bertukar gagasan. Berdiri pula rumah sakit yang sampai saat ini masih beroperasi sebagai Rumah Sakit Umum Daerah Kardinah Tegal. Pembiayaan kedua instansi tersebut dibantu oleh penjualan buku resep memasak dan membatik yang ditulis oleh Kardinah.

sumber : Femi Noviyanti on Radar Kudus
Kartini juga memiliki kakak kandung bernama Raden Mas Panji Sosrokartono, seorang jenius yang menguasai 35 bahasa. Ia adalah pemuda Indonesia generasi pertama yang menuntut ilmu di Belanda pada Jurusan Bahasa dan Kesusastraan Timur di Universitas Leiden. Sosrokartono kemudian berkarier dalam bidang jurnalistik sebagai koresponden perang, surat kabar Amerika Serikat The New York Herald Tribune. Saat meliput Perang Dunia I, ia sampai dikirim bersama pasukan sekutu untuk terjun ke medan pertempuran. Kepiawaian berbahasa juga membuatnya menjabat sebagai kepala penerjemah dalam Liga Bangsa-Bangsa yang merupakan pendahulu dari Perserikatan Bangsa-Bangsa ( PBB ).
Sosrokartono mendukung impian Kartini dengan menyediakan berbagai buku untuk memperkaya wawasan adiknya yang haus akan ilmu tersebut. Namun, jika sang kakak mampu melanglang buana ke Benua Eropa, Kartini yang juga memiliki impian untuk belajar ke negeri Belanda harus terhenti karena pada saat itu banyak sekali larangan bagi perempuan.
Nama mereka memang tak setenar Kartini, namun sepak terjang mereka tak kalah dalam memberikan inspirasi.
Penulis: Fadhil Wiyoto
Penyunting: Nadin Himaya
