Mengintip yang Tak Biasa dari Kampung Pelangi Semarang

Dari pemakaman, pemukiman, hingga perpustakaan berdampingan di sini.

Dokumentasi Pribadi

Mendengar nama Kampung Pelangi, apa yang terbesit di benak kalian selain sebuah kampung dengan warna-warna cerah di setiap sudutnya? Tak hanya tentang warna-warni kampungnya, tempat ini juga menyimpan banyak cerita menarik. Kali ini, saya berkesempatan untuk menelusuri Kampung Pelangi bersama Bersukaria Walking Tour pada hari Sabtu (10/4) lalu. Destinasi yang satu ini cukup menantang sekaligus menjadi pengalaman yang tak terlupakan. Mau tahu seperti apa serunya kampung yang satu ini? Yuk, simak perjalanan saya lewat artikel ini!

Rute Kampung Pelangi ini merupakan salah satu dari rute baru Bersukaria Walking Tour Semarang. Tentunya juga menarik para peserta yang ingin mengulik lebih dalam tentang Kampung Pelangi. Titik berkumpul kami berada di Museum Mandala Bakti. Pada pukul 15.35 WIB, para peserta mulai berkelompok bersama storyteller mereka. Dalam acara ini, terdapat dua kelompok yang masing-masing dipimpin oleh storyteller Bersukaria yakni kak Alif dan kak Astrid.

Dokumentasi Pribadi

Suasana kota Semarang yang cukup ramai dan sore yang hangat membuat saya bersemangat untuk mengikuti walking tour ini. Di rute ini, saya memutuskan untuk mengikuti kak Alif. Pada pukul 15.40, saya dan enam peserta lainnya diajak oleh kak Alif untuk memulai perjalanan menuju Kampung Pelangi. 

Perhentian pertama kami adalah Museum Mandala Bakti. Penuturan kak Alif mengenai sejarah museum ini membuat kami sedikit lebih mengenal tentang bagaimana bangunan megah ini mengalami pergantian kepemilikan serta fungsi. Salah satu fakta uniknya yaitu bahwa Museum Mandala Bhakti dulunya merupakan Pengadilan Tinggi bagi masyarakat Eropa di Semarang sebelum akhirnya berpindahtangan ke TNI Angkatan Darat. 

Dokumentasi Pribadi

Kami kembali berjalan menyusuri beberapa bangunan lain di sepanjang jalan Dr. Sutomo, lalu tiba di jalur kecil yang cukup menanjak. Jalur inilah pintu masuk kami menuju Kampung Pelangi. Kehati-hatian menjadi kunci dalam menapaki jalan ini. Selain diperuntukkan bagi pejalan kaki, ternyata jalan sekecil ini juga dapat dilewati motor-motor para penduduk Gunung Brintik. 

Di ujung jalan yang menanjak, kami disambut oleh sebuah sekolah yang berdiri di bawah Yayasan Pangudi Luhur Semarang. Sekolah ini unik karena bangunannya tak berdiri di satu kompleks, melainkan berjauh-jauhan karena menyesuaikan dengan kontur tanah. Sekolah yang bernama TK dan SD Pangudi Luhur Servatius ini melayani pendidikan anak-anak Gunung Brintik secara gratis. Meski berada di bawah naungan yayasan Katolik, mayoritas dari anak-anak yang bersekolah disini merupakan pemeluk agama Islam. 

Dokumentasi Pribadi

Jalan yang semakin menanjak membuat kak Alif mempersilahkan kami semua untuk beristirahat dan mengambil nafas sejenak. Terlihat ratusan rumah yang berwarna-warni di perbukitan yang kami lewati ternyata berdampingan dengan pemakaman umum Bergota. Meski tak umum, para warga serta anak-anak sudah terbiasa dengan pemandangan ini.

Tiba di puncak bukit Gunung Brintik, kami mendengarkan sejarah bukit Bergota yang dulunya dikelilingi laut namun menjadi daratan karena adanya sedimentasi yang masif. Kata Bergota berasal dari kata “berg” dan “grotte” dimana kata “berg” berarti gunung dan “grotte” berarti besar. Tanah ini diberikan oleh Gubernur Jawa Tengah, Nicholas Hartingh tahun 1740-an kepada rakyat untuk dijadikan pemakaman. 

Kak Alif menjelaskan bahwa Bukit Bergota menjadi kompleks pemakaman karena pengaruh budaya Hindu Buddha. Dataran tinggi seperti bukit diasosiasikan dengan tempat yang suci. Uniknya, ternyata kompleks pemakaman sudah lebih dulu hadir sebelum akhirnya pemukiman penduduk turut menghuni bukit ini. Di puncak, kami menikmati matahari terbenam dan melihat pemandangan kota Semarang dengan bangunan-bangunan megahnya secara jelas.

Dokumentasi Pribadi

Saat turun, terdapat beberapa petunjuk arah yang dibangun dan disediakan oleh Pemerintah Kota Semarang. Papan penunjuk arah ini disediakan ketika kawasan Kampung Pelangi direnovasi. Fasilitas ini mempermudah para wisatawan dapat dengan mudah menyusuri Kampung Pelangi. 

Perjalanan kami menjadi semakin berkesan ketika kami melihat lihainya motor-motor yang bersliweran di jalan super kecil ini. Seperti telah terlatih, para penduduk tak merasa kesulitan mengendarai kendaraannya. Selain itu, jalan-jalan tikus ini menghubungkan banyak titik di Kampung Pelangi dan menjadikan tempat ini unik.

Dokumentasi Pribadi

Di ujung turunan kami tiba di Pasar Kembang Kalisari sekitar pukul 16.30. Pasar yang terletak di sepanjang jalan Dr Sutomo ini menjual berbagai jenis tanaman dan karangan bunga. Area yang ramah pejalan kaki membuat kami merasa lega berjalan di sekitar pasar bunga ini. Karena revitalisasi Pasar Kembang Kalisari, area Kampung Pelangi yang dulunya kumuh ikut dirombak dan hasilnya pun dapat kami lihat sekarang. Para penduduk lebih memerhatikan kebersihan lingkungannya. Pasar kembang juga ikut membuka lapangan pekerjaan bagi penduduk setempat. 

Saking asyiknya menyusuri Jalan Dr Sutomo dan melewati beberapa bangunan peninggalan Belanda seperti Rumah Sakit Bhakti Wira Tamtama, kami tiba di perhentian terakhir yakni Microlibrary Warak Kayu. Bangunan yang satu ini berfungsi sebagai perpustakaan dimana masyarakat dapat dengan mudah mengakses bahan bacaan. Microlibrary ini merupakan perpustakaan pertama di Semarang yang sepenuhnya terbuat dari kayu yang ramah lingkungan. 

Dokumentasi Pribadi

Walking tour yang satu ini memang membutuhkan banyak stamina. Namun jangan salah, seluruh perjalanan kami terbayarkan di akhir. Perjalanan ini memberi saya potret tentang budaya yang membaur dan toleransi antaragama. Ketika melihat kompleks pemukiman yang berdampingan dengan pemakaman, saya mengerti bahwa pemakaman turut menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sebagai tempat bersosialisasi dan berkumpul. Dalam catatan saya, Kampung Pelangi merupakan potret harmoni yang berhasil tumbuh dan hidup dalam setiap sudut. 

Kampung Pelangi memang menyuguhkan banyak warna baik dalam bangunannya maupun ceritanya. Dengan pembawaan Kak Alif yang komunikatif dan apik dalam merangkai cerita, saya dan peserta lainnya mendapat banyak pengetahuan dan pengalaman baru. Nah, jika tertarik berkunjung ke Kampung Pelangi, jangan lupa untuk ikut walking tour rute Kampung Pelangi sesuai jadwal bulanan di Instagram @BersukariaWalk. Dijamin rute yang satu ini pasti berkesan!

Penulis: Katarina Nia

Penyunting: Nadin Himaya